Berkolaborasi Dengan Cinta, Bermitra Dalam Keberagaman Menuju Cita - Pembelajaran Mendalam.
Oleh Suherman
Akhir- akhir ini kita tengah diperhadapkan pada berbagai
situasi dan kondisi yang " Ibarat buah Simalakama " Dalam artian
bahwa jika kita hanya diam membisu maka laksana jalan di tempat dan tidak ada
progres. Justru sebaliknya jika kita rebut peluang itu maka tentunya akan ada
perubahan dalam hal dan aspek apapun juga untuk meniti dan menapaki hidup penuh
nuansa yang dinamis.
Indonesia menuju - Generasi Emas 2045 bukanlah hal yang muskil jika keyakinan itu
tetap digaungkan dari yang sifatnya top down maupun botton up atau dari - hulu
ke hilir dan dari hilir ke hulu sekalipun.
Dalam artian bahwa untuk mewujudkannya itu dibutuhkan upaya
maksimal dari berbagai pihak dan kalangan.
Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Pendidikan
Dasar Dan Menengah telah resmi meletakkan pondasi yang kuat melalui Kurikulum
Nasional . Dalam penerapannya;
Pembelajaran Mendalam dimaksud guru sebagai tenaga pendidik profesional
sekaligus sebagai ujung tombaknya harus mampu dan selalu mau mengupgrade diri
sesuai kapasitasnya masing-masing mulai dari sekolah elit di kota- kota besar
maupun sekolah dengan gedung dan sarana atau fasilitas pendukung seadanya
terutama di pinggiran ( 3 T ) atau pelosok
negeri.
Diyakini bahwa salah satu barometer sebuah bangsa yang maju
dan berkemajuan adalah dengan meningkatnya taraf hidup masyarakatnya dan karakteristik yang mereka
miliki selalu mau mencoba hal - hal baru untuk kemudian dijadikan bahan
bereksperimen ( uji coba ) dengan menggunakan cara berpikir ilmiah . Dan pada
gilirannya hasil uji coba tersebut kemudian dijadikan temuan atas
eksperimen melalui berbagaii tahapan
hingga memberi dampak positif yang luas. Hal ini berlaku dalam berbagai bidang
dan sektor kehidupan.
Kaitannya dengan - Pembelajaran Mendalam- dalam bingkai
dunia pendidikan secara holistik khusus pendidikan dasar dan menengah mulai
dari jenjang PAUD, SD, SLTP, SMA maupun
SMK atau sederajat pada galibnya harus dikemas dengan penuh optimisme ;
mulai dari Tenaga Kependidikan; staf,
pengurus Komite sekolah sebagai partnernya dan teristimewa guru sebagai ujung
tombaknya.
Satu keyakinan yang patut dijunjung tinggi bahwa hakekat
dari sebuah proses - to be tak
mungkin dapat dicapai tanpa kolaborasi
dengan jenis keberagaman apa pun itu dengan meminimalir perbedaan sudut pandang
apalagi sekat sebagai pembatas dalam tanda kutip demi cita dan cinta agar
pembelajar bisa menemukan citra dan jati dirinya sendiri melalui proses
pendidikan yang sifatnya berkesinambungan.
