Notification

×

Drama Offside & Konspirasi Tuan Rumah! Mengapa Iran Gagal di Piala Dunia 2026?

Minggu, 28 Juni 2026 | Juni 28, 2026 WIB Last Updated 2026-06-28T04:43:42Z

 

Instagram @federasi Sepakbola Iran

PeluangTerkini.com Nasib Iran di Piala Dunia 2026 berakhir dengan cara yang paling pahit. Perjalanan mereka diwarnai drama, kontroversi, dan perasaan "dirugikan", mulai dari perlakuan tuan rumah Amerika Serikat hingga keputusan VAR yang menghancurkan harapan di menit akhir, sebelum akhirnya "diselamatkan" oleh hasil imbang antara Aljazair dan Austria yang justru menjadi pukulan KO terakhir bagi mereka.

 

"Setengah Kaki" yang Mengubah Sejarah

Kunci kegagalan Iran adalah hasil imbang 1-1 melawan Mesir di pertandingan terakhir Grup G . Meskipun sudah tertinggal sejak menit ke-5, Iran berhasil menyamakan kedudukan melalui Ramin Rezaeian .

Namun, drama sesungguhnya terjadi di masa injury time babak kedua. Saat skor masih 1-1, Shoja Khalilzadeh mencetak gol yang disambut gegap gempita, karena gol itu akan membawa Iran meraih kemenangan dan lolos ke babak gugur untuk pertama kalinya .



Kegembiraan itu sirna dalam sekejap. Wasit meninjau VAR dan menganulir gol tersebut. Putusannya sangat kontroversial: Khalilzadeh dinyatakan offside hanya setengah ujung jari kaki di belakang bek terakhir Mesir . Keputusan ini membuat Iran harus puas di posisi ketiga dengan 3 poin, dan nasib mereka bergantung pada hasil pertandingan grup lain .

 

Hasil Imbang Aljazair vs Austria: "Pukulan KO" dari Grup J

Harapan Iran untuk lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik akhirnya pupus setelah pertandingan Grup J antara Aljazair dan Austria berakhir imbang 3-3 .

Laga ini berjalan sengit dan penuh drama. Austria unggul lebih dulu lewat gol Marko Arnautovic (28') dan Marcel Sabitzer (55'), tetapi Aljazair selalu mampu menyamakan kedudukan, masing-masing melalui Rafik Belghali (45') dan Riyad Mahrez (60') .

Di masa injury time, Aljazair kembali unggul 3-2 melalui gol kedua Mahrez (90+4'), yang tampaknya akan mengubur mimpi Iran karena mereka akan lolos menggantikan Aljazair. Namun, di menit terakhir pertandingan, Sasa Kalajdzic menyundul bola dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3 .



Hasil imbang ini membuat Austria dan Aljazair sama-sama mengoleksi 4 poin. Austria lolos sebagai runner-up grup, sementara Aljazair lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik, menggeser Iran yang hanya memiliki 3 poin dari posisi aman .

 

"Perlakuan Tidak Adil" Tuan Rumah Amerika Serikat

Perjalanan Iran di turnamen ini juga diwarnai konflik dengan tuan rumah bersama, Amerika Serikat. Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengkritik keras kebijakan pembatasan perjalanan yang diterapkan AS terhadap timnya .

Karena ketegangan politik, tim Iran tidak diizinkan berada di AS lebih dari 24 jam sebelum pertandingan dan harus segera meninggalkan negara itu setelah laga usai. Hal ini memaksa mereka untuk bermarkas di Tijuana, Meksiko, dan melakukan perjalanan bolak-balik selama 16 jam untuk setiap pertandingan di AS, yang dinilai sangat mengganggu persiapan fisik dan mental pemain .

Meskipun AS akhirnya melonggarkan aturan untuk pertandingan melawan Mesir (mengizinkan mereka tiba dua hari lebih awal), Ghalenoei tetap menyuarakan kekecewaannya . Ia menyebut timnya sebagai yang "paling tertindas" di turnamen dan meminta FIFA untuk menjunjung tinggi keadilan bagi semua peserta .

Dengan semua kontroversi ini, mimpi Iran untuk menembus babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya harus kembali tertunda.

 

 

×
Berita Terbaru Update