![]() |
| Instagram @federasi Sepakbola Iran |
PeluangTerkini.com
– Nasib Iran di Piala
Dunia 2026 berakhir dengan cara yang paling pahit. Perjalanan mereka diwarnai
drama, kontroversi, dan perasaan "dirugikan", mulai dari perlakuan
tuan rumah Amerika Serikat hingga keputusan VAR yang menghancurkan harapan di menit
akhir, sebelum akhirnya "diselamatkan" oleh hasil imbang antara
Aljazair dan Austria yang justru menjadi pukulan KO terakhir bagi mereka.
"Setengah
Kaki" yang Mengubah Sejarah
Kunci kegagalan Iran adalah hasil imbang 1-1 melawan Mesir di
pertandingan terakhir Grup G . Meskipun sudah tertinggal sejak menit ke-5,
Iran berhasil menyamakan kedudukan melalui Ramin Rezaeian .
Namun, drama sesungguhnya terjadi di masa injury time babak kedua. Saat
skor masih 1-1, Shoja Khalilzadeh mencetak gol yang disambut gegap gempita,
karena gol itu akan membawa Iran meraih kemenangan dan lolos ke babak gugur
untuk pertama kalinya .
Kegembiraan itu sirna dalam sekejap. Wasit meninjau VAR dan menganulir
gol tersebut. Putusannya sangat kontroversial: Khalilzadeh dinyatakan
offside hanya setengah ujung jari kaki di belakang bek
terakhir Mesir . Keputusan ini membuat Iran harus puas di posisi ketiga
dengan 3 poin, dan nasib mereka bergantung pada hasil pertandingan grup
lain .
Hasil Imbang
Aljazair vs Austria: "Pukulan KO" dari Grup J
Harapan Iran untuk lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik
akhirnya pupus setelah pertandingan Grup J antara Aljazair dan Austria
berakhir imbang 3-3 .
Laga ini berjalan sengit dan penuh drama. Austria unggul lebih dulu lewat
gol Marko Arnautovic (28') dan Marcel Sabitzer (55'), tetapi Aljazair selalu
mampu menyamakan kedudukan, masing-masing melalui Rafik Belghali (45') dan
Riyad Mahrez (60') .
Di masa injury time, Aljazair kembali unggul 3-2 melalui gol kedua Mahrez
(90+4'), yang tampaknya akan mengubur mimpi Iran karena mereka akan lolos
menggantikan Aljazair. Namun, di menit terakhir pertandingan, Sasa
Kalajdzic menyundul bola dan menyamakan kedudukan menjadi 3-3 .
Hasil imbang ini membuat Austria dan Aljazair sama-sama mengoleksi 4
poin. Austria lolos sebagai runner-up grup, sementara Aljazair lolos sebagai
salah satu tim peringkat ketiga terbaik, menggeser Iran yang hanya memiliki 3
poin dari posisi aman .
"Perlakuan
Tidak Adil" Tuan Rumah Amerika Serikat
Perjalanan Iran di turnamen ini juga diwarnai konflik dengan tuan rumah
bersama, Amerika Serikat. Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mengkritik keras
kebijakan pembatasan perjalanan yang diterapkan AS terhadap timnya .
Karena ketegangan politik, tim Iran tidak diizinkan berada di AS lebih
dari 24 jam sebelum pertandingan dan harus segera meninggalkan negara itu
setelah laga usai. Hal ini memaksa mereka untuk bermarkas di Tijuana, Meksiko,
dan melakukan perjalanan bolak-balik selama 16 jam untuk setiap pertandingan di
AS, yang dinilai sangat mengganggu persiapan fisik dan mental pemain .
Meskipun AS akhirnya melonggarkan aturan untuk pertandingan melawan Mesir
(mengizinkan mereka tiba dua hari lebih awal), Ghalenoei tetap menyuarakan
kekecewaannya . Ia menyebut timnya sebagai yang "paling
tertindas" di turnamen dan meminta FIFA untuk menjunjung tinggi keadilan
bagi semua peserta .
Dengan semua kontroversi ini, mimpi Iran untuk menembus babak gugur Piala
Dunia untuk pertama kalinya harus kembali tertunda.


